Pelajaran dari Al-Qamah

image
Semasa hayat Rasulullah Muhammad SAW ada satu kejadian pada diri seorang sahabat bernama Al-Qamah. Sejak masa muda ia dikenal saleh. Patuh, setia, dan taat beragama. Al-Qamah selalu ada di shaf depan di antara sahabat lainnya setiap shalat berjamaah. Ia juga dikenal sangat santun terhadap ibunya. Ayahnya sudah meninggal, segala kepentingan ibunya tidak ia abaikan. Tak sampai hati ia membiarkan ibunya mengambil air.

Sesudah Al-Qamah beristri dan tinggal di rumah sendiri, disengaja atau tidak, ia kurang memberi pelayanan kepada ibunya. Tetapi, ibunya tidak melapor tentang kekurangannya, hanya diam saja. Orang sekitar tak tahu bahwa ibu Al-Qamah sakit hati. Kemudian, terbetik berita bahwa Al-Qamah sakit. Sakitnya tambah berat.

Para sahabat berjaga-jaga ketika tampak ia seperti mau meninggal, mereka silih berganti untuk mentalqinkan, “Laa ilaaha illallaah …” tapi apa yang terjadi? Beberapa kali mereka coba mengulang, namun lidah Al-Qamah tidak bergetar, tidak dapat mengikuti, lidahnya kelu dan kaku. Salah seorang sahabat melapor kepada Rasulullah tentang situasi ini. Segera Rasulullah datang. Rasulullah menyuruh seorang sahabat menjemput ibu Al-Qamah. Kepada ibunya Rasul bertanya, apa tingkah Al-Qamah yang memberatkan dirinya ini?

Jika ada dosa terhadap ibunya sendiri maka segera dimaafkan! Ibunya menyebutkan bahwa anaknya itu orang baik dan taat kepada Allah. “Saya ini sedih ya Rasul, sesudah ia berumah tangga sangat kurang perhatiannya kepada saya, sebab itu saya tidak memaafkannya,” katanya. “Kalau begitu,” ujar Rasulullah, “Ayo para sahabat kumpulkan kayu bakar, supaya Al-Qamah ini dibakar saja.”

Mendengar sikap tegas Rasul, menangislah ibu itu sambil meronta-ronta. “Wahai Rasulullah, maafkan saya ya Rasul, jangan anak saya dibakar, saya mohon jangan ya Rasul. Saya sudah memaafkan Al-Qamah, saya sudah maafkan dia.”

Kata maaf dari lidah ibu itu amat spontan, saat itu juga lidah Al-Qamah lentur. Selesai ia menuturkan kalimat tauhid, terberitalah ia telah meninggalkan dunia. Nyaris ia termasuk ke dalam golongan umat yang disabdakan Rasul, yang artinya: “Tidak seorang hamba pun yang dianugerahi rezeki oleh Allah SWT kemudian dia tidak menunaikan hak kepada kedua orang tuanya, kecuali Allah menghapuskan amal baiknya dan menyiksanya dengan siksa yang pedih.”

Kejadian pada Al-Qamah suatu kisah singkat tapi mengajak untuk jadi renungan bermakna. Memang, ada orang mengatakan tiada sukar untuk berbakti kepada ibu-bapak. Gara-gara sibuk mengurus kebutuhan rumah tangga, ditambah ada saja permintaan sang istri tanpa sengaja ibu sendiri di rumahnya terlupakan. Apalagi kalau memang istri tidak peduli atau kurang suka pada mertuanya, sangat mungkin sang suami tiada dapat melayani. Semoga kita terlepas dari sikap durhaka kepada orang tua.

Tinggalkan komentar

Filed under shahabat nabi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s